perangkat pembelajaran

Magang 1

7juni 2021

Laporan bacaan
Penerbit : Gava Media
Penulis   : Drs. Daryanto & Aris Dwi Cahyono, S.Pd., M.Pd

Assalamualaikum wr.wb 

Perkenalkan 

Nama : ketrin Putri Utami
Nim : 11901136
Kls : PAI 4/i
dari jurusan pendidikan agama Islam angkatan 2019.
yang terhormat 
kepada Ibu Farninda Aditya,M.pd. 
selaku dosen pengampuh mata kuliah magang 1 dan teman-teman seperjuangan ku.
disini saya telah membaca dengan tema manajemen sekolah.
Apa yang saya baca dan saya pahimi akan saya jelaskan dibawah ini

                    Selamat membaca

a. Pengertian Perangkat Pembelajaran
Menurut Nazarudin (2007: 111) perangkat pembelajaran adalah segala
sesuatu atau beberapa persiapan yang disusun oleh guru baik secara individu
maupun berkelompok agar pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dapat
dilakukan secara sistematis dan memperoleh hasil seperti yang diharapkan,
sedangkan perangkat pembelajaran yang dimaksud terdiri atas Analisis Pekan
Efektif, Program Tahunan, Program Semester, Silabus, Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran, dan Kriteria Ketuntasan Minimal. Perangkat pembelajaran yang
dikembangkan dalam penelitian ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS).
b. Jenis Perangkat Pembelajaran
1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Menurut Permendiknas RI Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses
untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, tahap pertama dalam
pembelajaran menurut standar proses yaitu perencanaan pembelajaran yang
diwujudkan dengan kegiatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP). 
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran memiliki beberapa komponen yang
harus dipenuhi, yaitu:
1. Identitas
2. Indikator
3. Tujuan pembelajaran
4. Materi pembelajaran
5. Metode pembelajaran
6. Langkah-langkah pembelajaran
7. Sumber belajar
8. Penilaian hasil belajar
Komponen-komponen tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam
langkah-langkah penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran seperti berikut.
1. Mengisi Identitas
Identitas memuat nama mata pelajaran, sekolah, kelas/semester, alokasi
waktu, SK dan KD.
2. Merumuskan indikator
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai
oleh perubahan perilaku yang dapat diukur. Indikator dikembangkan sesuai
dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi
daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan teramati.
Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
3. Merumuskan tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang ditarget dalam
perencanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk
pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar.
4. Mengidentifikasi materi pembelajaran
Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi
pokok yang ada dalam silabus.
5. Menentukan metode pembelajaran
Metode bisa diartikan sebagai cara yang dipilih atau model atau
pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran
6. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran
Langkah-langkah pembelajaran terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan
pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pembelajaran diwujudkan
melalui penggunaan metode, pendekatan atau model yang dipilih dan bervariasi.
7. Menentukan sumber belajar
Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam
silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber belajar mencakup
sumber rujukan, lingkungan, media, nara sumber, alat, dan bahan.
8. Menetapkan penilaian
Penilaian terdiri atas tiga hal penting yaitu teknik penilaian, bentuk
instrumen, dan instrumen penilaian. Penilaian pencapaian kompetensi dasar siswa
dilakukan berdasarkan indikator yang telah disusun. Jika penilaian menggunakan 
tes tertulis uraian atau berupa proyek maka penilaian harus disertai rubrik
penilaian.
Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar
Proses, penyusunan RPP memiliki beberapa prinsip sebagai berikut.
1. Memperhatikan perbedaan individu siswa
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan
awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan
sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang
budaya, norma, nilai dan/atau lingkungan siswa.
2. Mendorong partisipasi aktif siswa
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada siswa untuk
mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian dan
semangat belajar.
3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis
Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran
membaca, pemahaman belajar bacaan dan berekspresi dalam berbagai bentuk
tulisan.
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif,
penguatan, pengayaan, dan remedi.
5. Keterkaitan dan keterpaduan
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara
SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian 
kompetensi, penilaian dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman
belajar.
6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi
dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis dan efektif sesuai dengan situasi
dan kondisi.
RPP yang baik adalah RPP yang mencakup seluruh komponen-komponen
RPP serta dalam penyusunannya memperhatikan prinsip-prinsip RPP.
2) Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Menurut Theresia Widyantini (2013: 3) Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan siswa yang berisi
petunjuk dan langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas yang diberikan
oleh guru kepada siswa. Menurut Abdul Majid (2006:176) Lembar Kegiatan
Siswa (LKS) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh
siswa. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk dan langkah-langkah untuk
menyelesaikan suatu tugas. Berdasarkan beberapa uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa Lembar Kegiatan Siswa (LKS) adalah lembaran tugas berupa
petunjuk atau langkah-langkah kegiatan dari guru kepada siswa untuk
mempermudah siswa dalam menyelesaikan suatu tugas.
Komponen Lembar Kegiatan Siswa (LKS) menurut Depdiknas (2008: 23)
terdiri dari judul, KD yang akan dicapai, waktu penyelesaian, peralatan/bahan 
yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, informasi singkat, langkah kerja,
tugas yang harus dilakukan, dan laporan yang harus dikerjakan.
Menurut Depdiknas (2008: 23) langkah penyusunan Lembar Kegiatan
Siswa (LKS) adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis kurikulum
Menganalisis kurikulum untuk menentukan materi-materi mana yang
memerlukan bahan ajar LKS. Materi ditentukan dengan cara melihat materi pokok
dan pengalaman belajar dari materi yang akan diajarkan dan kompetensi yang
harus dimiliki siswa.
2. Menyusun peta kebutuhan Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Peta kebutuhan LKS digunakan untuk menentukan urutan dan jumlah LKS
yang harus ditulis. Pada tahap ini dilakukan analisis sumber belajar.
3. Menentukan judul Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Judul LKS ditentukan atas dasar KD, materi pokok, atau pengalaman
belajar yang terdapat dalam kurikulum. Satu KD dapat dijadikan sebagai satu
judul apabila kompetensi itu tidak terlalu besar, sedangkan besarnya KD dapat
dideteksi dengan cara diuraikan ke dalam materi pokok. Materi pokok yang lebih
dari empat sebaiknya dipecah menjadi dua LKS.
4. Menulis Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Penulisan LKS dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
a. Perumusan KD yang harus dikuasai
b. Menentukan alat penilaian
c. Penyusunan materi
Salah satu hal yang paling utama dalam pendekatan open-ended adalah
mengonstruksi pemasalahan open-ended yang diberikan kepada siswa. Menurut
Ali Mahmudi (2008: 3) aspek keterbukaan dalam permasalahan open-ended dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga tipe, yaitu:
1. Terbuka proses penyelesaiannya, yakni soal itu memiliki beragam cara
penyelesaian.
2. Terbuka hasil akhirnya, yakni soal itu memiliki banyak jawaban benar.
3. Terbuka pengembangan lanjutannya, yakni ketika siswa telah menyelesaikan
sesuatu, selanjutnya mereka dapat mengembangkan soal baru dengan
mengubah syarat atau kondisi pada soal yang telah diselesaikan.
Setelah mengonstruksi permasalahan open-ended maka permasalahan
berikan sesuai dengan langkah-langkah pendekatan open-ended. Langkah-langkah
pendekatan open-ended menurut Maitree Inprashita (2006:171) yaitu:
1. Menyajikan masalah
Pada tahap menyajikan masalah guru memberikan pengertian dan
bimbingan akan pentingnya materi yang disajikan di dalam kehidupan sehari-hari,
serta memberikan penjelasan tentang masalah yang harus dijawab siswa.
2. Mengorganisasikan pembelajaran
Pada tahap ini, guru mengkondisikan siswa ke dalam pembelajaran agar
anak terlibat secara aktif untuk dapat menemukan pemecahan masalah. Siswa
dikelompokkan menjadi beberapa kelompok belajar atau dapat juga secara
individual.
3. Memperhatikan dan mencatat respons siswa
Guru memperhatikan siswa ketika mencoba mencari pemecahan masalah,
berperan sebagai fasilitator, jika siswa mengalami kesulitan dalam menempuh
jawaban permasalahan, guru memberikan penjelasan seperlunya.
4. Menyimpulkan hasil pembelajaran
Pada tahap ini anak dengan bantuan bimbingan guru membuat rangkuman
berupa kesimpulan alternatif jawaban yang benar, hasil dari pemecahan masalah
yang dibuat masing-masing kelompok.
Tahap mengorganisasikan pembelajaran, memperhatikan dan mencatat
respons siswa, dan menyimpulkan hasil pembelajaran merupakan tahapan-tahapan
proses siswa dengan menggunakan banyak jawaban benar dari permasalahan yang
diberikan untuk menemukan sesuatu yang baru dalam proses pemecahan masalah
kemudian guru membimbing siswa untuk menyimpulkan secara bersama-sama
agar siswa lebih yakin dengan jawaban masing-masing.
Berdasarkan berbagai pendapat mengenai langkah-langkah pembelajaran
menggunakan pendekatan open-ended maka langkah-langkah yang akan
digunakan pada penelitian ini adalah menyajikan masalah, mengorganisasikan
pembelajaran, memperhatikan dan mencatat respons siswa, dan menyimpulkan
hasil pembelajaran.
Tujuan dari pendekatan open-ended menurut Oh Nam Kwon (2006:52)
yaitu “The open-ended approach is a pedagogical strategy that aims to produce 
aktivitas kreatif matematika yang menstimulus keingintahuan siswa dan
kemampuan kerjasama dalam memecahan masalah.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka harus diperhatikan beberapa prinsip
pendekatan open-ended seperti yang disebutkan oleh Eman Suherman (2001:114)
yaitu:
1. Kegiatan siswa harus terbuka
Kegiatan terbuka adalah kegiatan yang harus mengakomodasi kesempatan
siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka.
2. Kegiatan matematika adalah ragam berpikir
Kegiatan matematika adalah kegiatan yang didalamnya terjadi proses
pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam
dunia matematika atau sebaliknya. Kegiatan matematika yang kaya dapat melatih
keterampilan siswa dalam menggeneralisasi dan mendiversifikasi suatu masalah.
3. Kegiatan siswa dan kegiatan matematika merupakan satu kesatuan.
Kegiatan siswa untuk melakukan kegiatan matematika dengan
memecahkan masalah dengan sendiri akan mendorong potensi mereka untuk
melakukan kegiatan matematika pada tingkat berpikir yang lebih tinggi. Dengan
demikian guru tidak perlu mengarahkan siswa memecahkan masalah dengan pola
atau cara yang sudah ditentukan, sebab menghambat kebebasan berpikir siswa
untuk menemukan cara baru menyelesaikan masalah

2. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Segitiga dan Segi Empat
a. Jenis-Jenis Penelitian Pengembangan
Menurut Endang Mulyatiningsih (2012: 161) penelitian pengembangan
bertujuan untuk menghasilkan suatu produk baru melalui proses pengembangan
produk. Produk penelitian pengembangan dalam pendidikan dapat berupa model,
media, peralatan, buku, modul, alat evaluasi, dan perangkat pembelajaran. Setiap
produk memiliki prosedur penelitian dan pengembangan yang berbeda sehingga
terdapat beberapa jenis penelitian pengembangan seperti pengembangan model
pembelajaran, perangkat tes, manajemen sistem basis data, media audio visual,
dan sistem pembelajaran.
Pengembangan model pembelajaran mengacu pada metode penelitian
pengembangan yang dikembangkan oleh Brog dan Gall (Endang Mulyatiningsih,
2012: 163) yang terdiri atas 10 tahapan yaitu (1) Research and Information
Collection, (2) Planning, (3) Develop Preliminary Form of Product, (4)
Preliminary Field Testing, (5) Main Product Revision, (6) Main Field Testing, (7)
Operational Product Revision, (8) Operational Field Testing, (9) Final Product
Revision, dan (10) Dissemination and Implemention.
Pengembangan perangkat tes yang dilakukan pendidik adalah untuk
keperluan evaluasi pembelajaran atau penyusunan bank soal. Pengembangan
perangkat tes mengacu pada 10 langkah pengembangan menurut McIntire
(Endang Mulyatiningsih, 2012: 166) yaitu (1) Defining the test universe,
audience, and purpose, (2) Developing a test plan, (3) Composing the test items,
(4) Writing the administration instructions, (5) Conduct piloting test, (6) Conduct 
item analysis, (7) Revising the test, (8) Validation the test, (9) Developing norms,
dan (10) Complete test manual.
Pengembangan manajemen sistem basis data yang digunakan dalam dunia
pendidikan untuk keperluan pengembangan basis data akademik, basis data
sekolah, media pembelajaran, perangkat e-learning, dan lain-lain. Pengembangan
ini memiliki empat langkah utama yaitu (1) Analisis kebutuhan pengembangan
program, (2) Perancangan program, (3) Pembuatan program, dan (4) Pengujian
dan evaluasi program.
Pengembangan media audio visual adalah berupa video pembelajaran yang
memiliki lima tahap pengembangan yaitu (1) Memilih dan menyusun kerangka
materi, (2) Memilih dan mengorganisasikan isi program, (3) Menyusun dan
menguji skrip, (4) Menguji dan merevisi skrip, dan (5) Produksi video.
Pengembangan sistem pembelajaran dilakukan untuk menghasilkan sistem
pembelajaran yang dapat membantu siswa mencapai tujuan belajar.
Pengembangan ini memiliki dua model pengembangan yaitu model 4D dan model
ADDIE. Model 4D terdiri atas 4 tahap yaitu (1) Define, (2) Design, (3) Develop,
dan (4) Disseminate sedangkan model terdiri atas 5 tahap yaitu (1) Analysis, (2)
Design, (3) Development, (4) Implementation, dan (5) Evaluation.
b. Model Penelitian Pengembangan yang Sesuai untuk Mengembangkan
Perangkat Pembelajaran
Pengembangan perangkat pembelajaran termasuk jenis pengembangan
sistem pembelajaran sehingga pada penelitian ini akan digunakan model
penelitian ADDIE.
a) Analysis
Pada tahap ini dilakukan identifikasi produk yang sesuai dengan sasaran
siswa, tujuan belajar, isi/materi pembelajaran dan strategi penyampaian dalam
pembelajaran. Tahap ini dibagi menjadi analisis karateristik siswa, analisis
kebutuhan, dan analisis kurikulum.
b) Design
Tahap desain merupakan tahap merancang desain produk dan merancang
instrumen penelitian yang ditulis secara rinci. Kegiatan yang dilakukan pada tahap
ini menghasilkan rancangan yang masih bersifat konseptual dan sebagai dasar
pengembangan pada tahap selanjutnya.
c) Development
Tahap ini berisi tahap realisasi rancangan produk yang telah disusun pada
tahap sebelumnya. Pada tahap ini dikembangkan rancangan produk menjadi
produk yang siap diimplementasikan.
d) Implementation
Pada tahap ini dilakukan implementasi produk yang telah dikembangkan
sesuai dengan rancangan. Produk yang telah diimplementasikan kemudian
dievaluasi pada tahap berikutnya.
e) Evaluation
Pada tahap ini dilakukan evaluasi terhadap produk yang kemudian
digunakan sebagai bahan revisi. Pada tahap ini juga dilakukan pengukuran
terhadap kualitas pengembangan produk.
c. Kualitas Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Menurut Nieveen (1999: 126) suatu produk pengembangan kegiatan
pembelajaran haruslah memenuhi kriteria kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan.
a. Kevalidan
Menurut Nieveen (1999: 127) suatu produk dikatakan valid apabila “The
component of the material should be based on state-of-the-art knowledge (content
validity) and all components should be consistenly linked to each other (construct
validity).”
Maknanya yaitu komponen pada materi sesuai dengan pengetahuan state￾of-the-art (validitas isi) dan semua komponen harus saling terhubung antara satu
dengan yang lainnya secara konsisten (validitas konstruk).
Menurut Sa’adun Akbar (2013: 152) validasi terhadap perangkat
pembelajaran dilakukan dengan cara seseorang atau beberapa ahli pembelajaran
memberikan penilaian terhadap perangkat pembelajaran melalui instrumen
validasi ahli untuk menilai kesesuaian perangkat pembelajaran dengan teorinya
dan memberi masukan untuk perbaikan perangkat pembelajaran.
Pada penelitian ini akan dilakukan validasi konstruk terhadap perangkat
pembelajaran dengan menggunakan instrumen validasi oleh dosen ahli. Hasil
validasi akan menentukan tingkat kevalidan perangkat pembelajaran. Kevalidan
RPP dinilai dari tujuh komponen RPP yaitu identitas, perumusan indikator dan
tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah
pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar sedangkan kevalidan 
LKS dinilai dari empat komponen evaluasi LKS yaitu komponen kelayakan isi,
komponen kebahasaan, komponen sajian, dan komponen kegrafikan.
b. Kepraktisan
Perangkat pembelajaran dikatakan praktis apabila “… teacher and other
experts consider the materials to be usable and that is easy for teachers and
students to use the materials …” (Nieveen, 1999: 127). Maknanya perangkat
pembelajaran dikatakan praktis apabila guru dan ahli yang lain beranggapan
bahwa materi bermanfaat dan terasa mudah untuk guru dan siswa menggunakan
materi tersebut. Berdasarkan penjelasan tersebut aspek kepraktisan menurut
Nieveen merujuk pada dua hal yaitu kebermanfaatan dan kemudahan perangkat
pembelajaran.
Menurut Sa’adun Akbar (2013: 152) setelah menggunakan perangkat
pembelajaran tentunya pengguna mengetahui dan merasakan tingkat kepraktisan
perangkat pembelajaran. Pengguna akan mengetahui kehebatan dan kekurangan
perangkat pembelajaran dari sisi kecukupan alokasi waktu, ketepatan langkah
pembelajaran yang disajikan pada RPP, kesesuaian materi/bahan ajar yang
digunakan, kemenarikan media pembelajaran, keterbantuan mencapai tujuan
pembelajaran, keandalan instrumen penilaian dan lainnya yang kemudian
digunakan untuk masukan perbaikan perangkat pembelajaran.
Pengguna dari perangkat pembelajaran adalah siswa dan guru, oleh karena
itu pada penelitian ini dilakukan penilaian terhadap kepraktisan perangkat
pembelajaran menggunakan tiga instumen yaitu angket penilaian siswa, angket
penilaian guru, dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Anget
penilaian siswa untuk mengukur kepraktisan LKS dengan aspek kemudahan,
kebermanfaatan, keterbantuan, kemenarikan, pendekatan open-ended, dan
komunikasi matematis. Angket penilaian guru untuk mengukur kepraktisan RPP
dan LKS dengan aspek penyajian materi, penyajian RPP, dan penyajian LKS.
Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran untuk mengukur kepraktisan
perangkat pembelajaran dari aspek alokasi waktu dan keterlaksanaan langkah￾langkah pembelajaran sesuai dengan RPP yang dikembangkan.
c. Keefektifan
Menurut Sa’adun Akbar (2013: 152) untuk mengetahui keefektifan
perangkat pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran adalah dengan cara
melakukan uji kompetensi bagi siswa untuk kemudian dianalisis hasilnya. Uji
kompetensi dapat berupa tes maupun non-tes dengan cara uji yang disesuaikan
dengan kompetensi yang akan diketahui.
Pada penelitian ini akan digunakan tes kemampuan komunikasi matematis
untuk mengukur keefektifan perangkat pembelajaran. Tingkat keefektifan dilihat
dari rata-rata skor ketercapaian aspek komunikasi matematis dan ketuntasan
klasikal tes kemampuan komunikasi matematis. 
pembelajaran adalah upaya memfasilitasi pelajar, instruktur, guru, dan dosen agar
siswa dapat belajar dengan mudah. Menurut Erman Suherman dkk (2001: 8),
pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar
program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.
Definisi matematika menurut Johnson dan Rising (Erman Suherman dkk,
2001:19), matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian
yang logik, matematika adalah bahasa yang menggunakan istilah yang
didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol dan
padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.
Menurut Claude H. Brown (1953:18) matematika dapat diartikan sebagai bahasa
simbol yang berguna untuk mengekspresikan suatu nilai kuantitatif serta
hubungannya.
Dari berbagai definisi di atas, diperoleh bahwa pembelajaran matematika
adalah suatu upaya pendidik untuk menyampaikan matematika yang merupakan
bahasa simbol dan organisasi olah pikir yang logik dengan cara penataan nuansa
lingkungan agar program belajar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Permendiknas RI Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan bahwa pembelajaran matematika
SMP bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berkut.
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan
tepat, dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan
gagasan dan pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi
yang diperoleh.
4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain
untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari
matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Komentar