kurikulum
Magang 1
7juni 2021
Laporan bacaan
Syamsul Bahri
Volume XI, No. 1, Agustus 2011
Jurnal ilmiah ISLAM FUTURA
Assalamualaikum wr.wb
Perkenalkan
Nama : ketrin Putri Utami
Nim : 11901136
Kls : PAI 4/i
dari jurusan pendidikan agama Islam angkatan 2019.
yang terhormat
kepada Ibu Farninda Aditya,M.pd.
selaku dosen pengampuh mata kuliah magang 1 dan teman-teman seperjuangan ku.
disini saya telah membaca dengan tema manajemen sekolah.
Apa yang saya baca dan saya pahimi akan saya jelaskan dibawah ini
Selamat membaca
A. Pendahuluan
Salah satu komponen penting dalam pendidikan yang sering
diabaikan adalah kurikulum. Kurikulum memiliki posisi strategis
karena secara umum kurikulum merupakan deskripsi dari visi, misi,
dan tujuan pendidikan sebuah bangsa. Hal ini sekaligus memposisikan
kurikulum sebagai sentral muatan-muatan nilai yang akan ditrans-formasikan kepada peserta didik.
Arah dan tujuan kurikulum pendidikan akan mengalami pergeseran dan perubahan seiring dengan dinamika perubahan sosial
yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.
Karena sifatnya yang dinamis dalam menyikapi perubahan, kurikulum
mutlak harus fleksibel dan futuristik. Ketimpangan-ketimpangan
dalam disain kurikulum karena kurang respon terhadap perubahan
sosial boleh jadi berkonsekuensi kepada lahirnya output pendidikan
yang ‘gagap’ dalam beradaptasi dengan kondisi sosial yang dimaksud.
Atas dasar pertimbangan ini, maka pengembangan kurikulum
menjadi salah satu tugas pokok pemerintah untuk mengatur dan mengembangkan pendidikan. Demikian juga halnya dengan peran tokoh
maupun pemerhati pendidikan agar mengikuti setiap episode dari perubahan sosial, karena semua itu akan menjadi bahan pertimbangan
dalam mendisain serta mengembangkan kurikulum. Selain itu, partisipasi masyarakat aktif juga sangat diharapkan untuk memberikan
sumbangan pemikiran dalam merespon setiap perubahan.
Banyak hal yang harus dipertimbankan dalam pengembangan
kurikulum, mulai dari pemahaman teori dan konsep kurikulum, asasasas kurikulum, macam-macam model konsep kurikulum, anatomi dan
desain kurikulum, landasan-landasan pengembangan kurikulum dan
lain-lain yang berkaitan dengan proses pengembangan kurikulum.
Dari cakupan materi dan pembahasan dalam pengembangan
kurikulum, kajian ini hanya fokus pada pembahasan mengenai dasar
dan tujuan pengembangan kurikulum. Yakni paparan singkat apa
sebenarnya yang menjadi dasar pengembangan kurikulum serta apa
sebenarnya tujuan pengembangan kurikulum. Paparan ini diharapkan
dapat menjadi bahan informasi berharga bagi stakeholders, terutama
terkait pengembangan kurikulum.
B. Pembahasan
a. Konsep kurikulum
Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu
curir yang artinya pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Jadi,
istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari
dari garis start sampai finish.1
Dapat dipahami jarak yang harus
ditempuh di sini bermakna kurikulum dengan muatan isi dan materi
pelajaran yang dijadikan jangka waktu yang harus ditempuh oleh
siswa untuk memperoleh ijazah. Dalam bahasa Arab, kata kurikulum
yang biasa digunakan adalah manhaj, yang berarti jalan terang
yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan
kurikulum pendidikan (manhaj al-dirāsah) dalam kamus Tarbiyah
adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh
lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.2
Menurut S. Nasution, kurikulum merupakan suatu rencana
yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah
bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan
beserta staf pengajaran. Selanjutnya Nasution menjelaskan sejumlah
ahli teori kurikulum berpendapat bahwa kurikulum bukan hanya
meliputi semua kegiatan yang direncanakan melainkan peristiwaperistiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah. Jadi selain kegiatan
kurikulum yang formal yang sering disebut kegiatan ko-kurikuler atau
ekstra kurikuler (co-curriculum atau ekstra curriculum).3
Menurut Crow and Crow, sebagaimana yang dikutip oleh Oemar
Hamalik, kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah
mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan
suatu program untuk memperoleh ijazah.4
Dalam bukunya yang lain,
Hamalik menjelaskan lebih luas bahwa kurikulum di sini memuat isi
dan materi pelajaran. Jadi kurikulum ialah sejumlah mata pelajaran
yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh
sejumlah pengetahuan, mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai
pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau yang telah disusun sistematis dan logis.5
Ternyata kegiatan kurikuler tidak hanya terbatas dalam ruangan
kurikulum dalam pengertian luas tidak hanya terbatas pada subjek
pelajaran saja, tetapi mencakup berbagai aktivitas yang dilakukan, baik
di sekolah mapun di luar sekolah seperti yang diungkapkan oleh Saylor
dan Alexander; ”…school’s curriculum is the total affort of the school to
bring about desired outcome’s in school and in out of school situation.
In short, the curriculum is the school’s program for learner”.6
Bahkan Alice Miel memahami bahwa kurikulum meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan,
kecakapan, dan sikap-sikap orang yang melayani dan dilayani di sekolah
(termasuk di dalamnya seluruh pegawai sekolah) dalam memberikan
bantuan kepada siswa termasuk ke dalam kurikulum.7
Dalam pengertian lainnya ditegaskan, bahwa kurikulum adalah
keseluruhan program, fasilitas, dan kegiatan suatu lembaga pendidikan atau pelatihan untuk mewujudkan visi, misi dan lembaganya. Oleh
karena itu, pelaksanaan kurikulum untuk menunjang keberhasilan sebuah lembaga pendidikan harus ditunjang hal-hal sebagai berikut. Pertama, Adanya tenaga yang berkompeten. Kedua, Adanya fasilitas yang
memadai. Ketiga, Adanya fasilitas bantu sebagai pendukung. Keempat,
Adanya tenaga penunjang pendidikan seperti tenaga administrasi,
pem-bimbing, pustakawan, laboratorium. Kelima, Adanya dana yang
memadai, keenam, Adanya menejemen yang baik. Ketujuh, Terpeliharanya budaya menunjang; religius, moral, kebangsaan dan lain-lain,
kedelapan, Kepemimpinan yang visioner transparan dan akuntabel.8
Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian kurikulum tidak
hanya terbatas pada program pendidikan, namun juga dapat diartikan menurut fungsinya. Muhaimin dan Abdul Mujib menyatakan, bahwa
terdapat tujuh pengertian kurikulum menurut fungsinya, yaitu:
Pertama, kurikulum sebagai program studi yakni: Seperangkat
mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh peserta didik di sekolah
atau di instansi pendidikan lainnya. Kedua, kurikulum sebagai konten
yakni: data atau informasi yang tertera dalam buku-buku kelas tanpa
dilengkapi dengan data atau informasi lainnya yang memungkinkan
timbulnya belajar. Ketiga, kurikulum sebagai kegiatan yang berencana
yakni: kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan, dan bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan hasil yang baik.
Keempat, kurikulum sebagai hasil belajar yakni: seperangkat
tujuan yang utuh untuk memperoleh suatu hasil tertentu tanpa menspesifikasikan cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil-hasil
itu, atau seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan.
Kelima, kurikulum sebagai reproduksi kultural yakni: transfer dan
refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat, agar memiliki dan dipahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut.
Keenam, kurikulum sebagai pengalaman belajar yakni: keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan
sekolah. Ketujuh, Kurikulum sebagai produksi yakni: seperangkat
tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan
terlebih dahulu.9
Kurikulum dengan demikian adalah seperangkat rencana pembelajaran yang terdiri dari isi dan materi-materi pelajaran yang terstruktur, terprogram dan terencana dengan baik yang berkaitan
dengan berbagai kegiatan dan interaksi sosial di lingkungan dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar dengan tujuan mencapai
tujuan pendidikan. Dalam makna yang lebih luas, kurikulum adalah
kumpulan seperangkat nilai yang dirancang untuk ditransformasikan
kepada subjek didik, baik nilai-nilai dalam bentuk kognitif, afektif
maupu psikomotor. dengan memperoleh seperangkat nilai tersebut,
pola pikir dan perilaku subjek didik akan terbentuk sesuai dengan arah
dan tujuan yang sudah diformulasikan sebelumnya, yaitu kurikulum.Dengan demikian, pengertian kurikulum dalam pandangan
modern merupakan program pendidikan yang disediakan oleh sekolah,
tidak terbatas pada bidang studi dan kegiatan belajar saja, akan tetapi
meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan
pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang
diharapkan dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksanaannya bukan saja di sekolah, akan tetapi juga di luar sekolah.
b. Dasar pengembangan kurikulum
Dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu. Fungsi dasar
ialah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus
sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu. Setiap negara mempunyai
dasar pendidikannya sendiri. Ia merupakan cerminan falsafah hidup
suatu bangsa. Berpijak pada dasar itulah pendidikan suatu bangsa
disusun. Dan oleh karena itu maka sistem pendidikan setiap bangsa
berbeda karena mereka mempunyai falsafah hidup yang berbeda.10
Pengembangan kurikulum tidak hanya merupakan abstraksi,
akan tetapi mempersiapkan berbagai contoh dan alternatif untuk
tindakan yang merupakan inspirasi dari beberapa ide dan penyesuaianpenyesuaian lain yang dianggap penting.11 Menurut Audrey Nicholls
dan Howard Nicholls, sebagaimana dipahami oleh Oemar Hamalik,
bahwa pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatankesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah
perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai sampai di mana
perubahan dimaksud telah terjadi pada diri siswa.12
Fungsi dasar atau landasan pengembangan kurikulum adalah
seperti fondasi sebuah bangunan. Sebuah gedung yang menjulang
tinggi berdiri di atas fondasi yang rapuh tentu tidak akan bertahan
lama. Oleh sebab itu, sebelum sebuah gedung dibangun, terlebih
dahulu dibangun fondasi yang kokoh. Semakin kokoh fondasi sebuah gedung, maka akan semakin kokoh pula gedung tersebut.13
Fondasi bangunan yang diibaratkan pada uraian di atas
adalah dasar atau landasan dalam merancang sebuah kurikulum.
Jadi, berkualitas atau tidaknya kurikulum yang dirancang, sangat
ditentukan oleh dasar pengembangan kurikulum yang kuat. Seller
dan Miller, sebagaimana dikutip oleh Sanjaya, mengemukakan bahwa
proses pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang
dilakukan secara terus-menerus.14
Menurut Harrick, sabagaimana dikutip oleh Hamalik bahwa
sumber kurikulum itu ada tiga yaitu; pertama, pengetahuan sebagai
sumber yang akan disampaikan kepada anak yang disajikan dari
berbagai bidang studi, kedua, masyarakat sebagai sumber kurikulum
di mana sekolah merupakan agen masyarakat dalam meneruskan
warisan-warisan budaya serta memecahkan masalah-masalah dalam
masyarakat. Dan ketiga, individu yang didik sebagai sumber kurikulum
di mana kurikulum disusun dengan maksud untuk membantu
perkembangan anak seoptimal mungkin.15
Sumber kurikulum yang dikemukakan oleh Herrick di atas tidak
jauh berbeda dengan Ronald Doll, yang mengemukakan bahwa dasar
kurikulum serupa dan hanya menambahkan dasar filsafat dan sejarah.
Menurut Doll ada empat dasar kurikulum yakni dasar filsafat dan
sejarah, psikologi, dasar sosial budaya dan dasar ilmu pengetahuan.16
Hal serupa mengenai dasar kurikulum juga dikemukakan oleh
Nana Syaodih Sukmadinata, dia mengatakan bahwa ada empat dasar/
landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu; landasan
filosofis, landasan psikologis, landasan sosial-budaya dan landasan
ilmu pengetahuan dan teknologi.17 Untuk lebih jelasnya, dasar-dasar
pengembangan kurikulum tersebut sebagai berikut:1. Dasar Filosofis dan Sejarah
Dalam filsafat pendidikan dikenal beberapa aliran filsafat yaitu
progresifisme, esensialisme, perennialisme, rekonstruksionalisme dan
eksistensialisme. Masing-masing aliran mempunyai latar belakang
dan konsep yang berbeda. Aliran progresifisme merupakan aliran yang
mengutamakan kebebasan dan menentang semua bentuk otoriter
dan absolutisme. Berbeda dengan aliran essensialisme yang berusaha
menyatukan pertentangan antara konsepsi idealisme dan realisme.
Perennialisme tampil sebagai aliran yang bersifat “progresif” yaitu
mundur ke masa lampau sampai abad pertengahan. Sedangkan aliran
rekonstruksionalisme merupakan aliran yang memandang segala gejala
berpangkal pada eksistensi, yaitu cara manusia berada di dunia yang
berbeda dengan keberadaan materi.
2. Dasar Psikologis
Syafruddin Nurdin mengatakan, bahwa pada dasarnya pendidikan
tidak terlepas dengan unsur-unsur psikologi, sebab pendidikan adalah
menyangkut perilaku manusia itu sendiri, mendidik berarti merubah
tingkah laku anak menuju kedewasaan. Oleh karena itu, dalam proses
belajar mengajar selalu dikaitkan dengan teori-teori perubahan
tingkah laku anak.19 Beberapa teori tingkah laku antara lain adalah
behaviorisme, psikologi daya, perkembangan kognitif, teori lapangan
(teori Gastalt) dan teori kepribadian
3. Dasar Sosial-Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan.
Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan
hasil pendidikan. Ini dapat dimaklumi bahwa pendidikan merupakan
usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke
lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan an
sich, namun lebih penting lagi untuk memberikan bekal pengetahuan,
keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai
perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan
baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat,
dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan
dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Kita tidak mengharapkan
munculnya manusia yang terasing dari lingkungan masyarakatnya,
tetapi justru melalui pendidikan diharapkan lahirnya manusia
yang dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan
harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan
dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
4. Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Awalnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan
mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan baru terus
berlangsung hingga saat ini. Dapat dipastikan, bahwa masa yang akan
datang penemuan tersebut semakin berkembang. Seiring perkembangan akal manusia yang telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu tidak mungkin. Sebagai ilustrasi, pada
zaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau
manusia bisa menginjakkan kaki di permukaan Bulan, tetapi berkat
kemajuan dan perkembangan IPTEK pada pertengahan abad ke-20,
pesawat Apollo 11 berhasil mendarat di bulan dan Neil Amstrong me rupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di bulan
Selain empat dasar yang telah diuraikan sebelumnya, ada beberapa faktor penting yang merupakan dasar pengembangan kurikulum
yang perlu diperhatikan di mana pengembangan kurikulum sejatinya
dilaksanakan secara terus menerus dan dinamis. Pengembangan kurikulum bukanlah hal yang malah merumitkan sistem pembelajaran,
melainkan sebuah langkah antisifatif dalam merespon perubahan
sosial yang terus berlangsung tanpa henti. Oleh sebab itu, menurut
Hamalik, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan:
1. Kebijakan nasional sebagai upaya merealisasikan butir-butir
keterpaduan dalam GBHN, khususnya yang berkenaan dengan
sistem pendidikan nasional.
2. Kebijakan-kebijakan dalam bidang pendidikan dalam rangka merealisasikan Undang-undang (UU) sisdiknas nomor 20 tahun 2003)
yang menyebutkan kurikulum menempati kedudukan sentral.
3. Perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang
sinkron dengan kebutuhan pembangunan dan memenuhi keperluan
sistem pendidikan dalam upaya memanfaatkan, mengembangkan,
dan menciptakan IPTEK.
4. Kebutuhan, tuntutan, aspirasi dan masalah dalam sistem masyarakat
yang bersifat dinamis, dan berubah dengan cepat dewasa ini dan
masa akan datang.
5. Profesionalisasi dan fungsionalisasi ketenagaan bidang pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan yang berkualitas dan mampu bekerjasama dengan unsur ketenagaan profesi lainnya.
6. Upaya pembinaan disiplin ilmu pengembangan kurikulum dan
teknologi pendidikan yang berkaitan dengan upaya pembinaan disiplin
ilmu lainnya, serta pembinaan ilmu pendidikan pada khususnya.25
Lebih rinci, Oemar Hamalik mengemukakan beberapa dasar
yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum, yaitu:
1. Kurikulum disusun untuk mewujudkan sisdiknas.
2. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan dengan
pendekatan kemampuan.
3. Kurikulum harus sesuai dengan ciri khas satuan pendidikan pada
masing-masing jenjang pendidikan.
4. Kurikulum pendidikan dasar, menengah dan tinggi dikembangkan
atas dasar standar nasional pendidikan untuk setiap jenis dan
jenjang pendidikan.
5. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan secara
berdivertifikasi, sesuai dengan kebutuhan potensi, dan minat
peserta didik serta tuntutan pihak-pihak yang memerlukan dan
berkepentingan.
6. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan tuntutan pembangunan daerah dan nasional, keanekaragaman potensi daerah
dan lingkungan serta kebutuhan pengembangan iptek dan seni.
7. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan secara
berdiversifikasi, sesuai tuntutan lingkungan dan budaya setempat.
8. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan mencakup aspek spiritual keagamaan, intelektualitas, watak konsep diri, keterampilan
belajar, kewirausahaan, keterampilan hidup yang berharkat dan
bermartabat, pola hidup sehat, estetika dan rasa kebangsaan.26
Dari beberapa dasar pentimbangan dalam pengembangan kurikulum yang seperti gambaran di atas, maka jelas bahwa tergambar di
dalamnya dasar filosofi dan sejarah, dasar psikologi, dasar sosial budaya
dan dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian tingkat
akurasi dan efektivitas pengembangan kurikulum sangat ditentukan
oleh dasar-dasar yang telah diuraikan.
c. Tujuan Pengembangan Kurikulum
Pendidikan adalah aktivitas yang dilakukan dengan tujuan
tertentu yang ingin dicapai, sehingga pendidikan dilakukan dengan
suatu perencanaan yang matang. Aktivitas yang menyimpang dari
pencapaian tujuan tersebut sedapat mungkin dicegah karena akan
kontra produktif dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan itu
sendiri memiliki dua fungsi, memberi arah dan merupakan sesuatu
yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.27
Dalam bahasa Inggris, istilah tujuan terdapat dalam beberapa
kata, yaitu: aims, purposes, goals, dan objectives. The Oxford English
Dictionary mengartikan aims sebagai perbuatan yang menentukan
cara berkenaan dengan tujuan yang diharapkan. Goals adalah tujuan
yang ditargetkan dengan pengerahan upaya yang sungguh-sungguh.
Objectives adalah tujuan pengantar ke tujuan umum. Jelasnya, aims
adalah tujuan umum, sedangkan objectives merupakan tujuan khusus.
Purposes adalah sinonim bagi ketiga istilah di atas. The Oxford English
Dictionary mendefinisikan purposes dengan “salah satu ketentuan berkenaan dengan hal-hal yang akan dilakukan atau yang akan dicapai”.
Tujuan dalam perspektif pendidikan adalah. segala sesuatu target-target
yang ditetapkan untuk dicapai melalui aktivitas pendidikan.28
Arah dan hasil yang ingin dicapai akan dirumuskan dalam tujuan
yang telah disepakati. Tujuan akan membimbing dan mengarahkan
setiap langkah dan tindakan agar selalu berada dalam alur yang
benar dan tidak menyimpang, maka di samping sebagai penentu arah,
tujuan juga berperan sebagai pengawasan dan pengontrolan aktivitas
dalam pendidikan. Pada ketiga jenis istilah ini tidak memperlihatkan
perbedaan yang substansi karena tetap merupakan konsep tujuan
akan tetapi hanya perbedaannya pada levelisasi dan kepentingannya.
Tujuan adalah segala sesuatu yang dicapai. Segala sesuatu ini dapat berupa benda kongkrit baik yang berupa barang maupun tempat,
atau dapat juga berupa hal-hal yang sifatnya abstrak, misalnya cita-cita
Tujuan pengembangan kurikulum juga harus memperhatikan
tujuan institusional (tujuan lembaga/satuan pendidikan), tujuan
kurikuler (tujuan bidang studi), dan tujuan instruksional (tujuan
pembelajaran). Semuanya perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan kurikulum. Di sisi lain dapat ditegaskan bahwa tujuan
pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari tujuan pendidikan
itu sendiri, sebab kurikulum merupakan ujung tombak ideal dari visi,
misi dan tujuan pendidikan sebuah bangsa.
Secara makro, jika di lihat dari beberapa landasan pengembangan
kurikulum pada dasarnya tujuan pengembangan kurikulum mengacu
kepada paradigma pergeseran filsafat pendidikan, perubahan dan pergeseran sosial dan pengembangan pengetahuan seperti pengembangan sains dan teknologi. Dapat juga dikatakan bahwa pengembangan kurikulum bertujuan untuk menyikapi persoalan sosial yang datang
seiring perputaran waktu.
Dari paparan di atas dapat dipahami adanya empat tujuan pengembangan kurikulum yang substansial: 1) merekonstruksi kurikulum sebelumnya; 2) menginovasi; 3) beradaptasi dengan perubahan
sosial (sisi positifnya); 4) mengeksplorasi pengetahuan yang masih
tersembunyi berdasarkan tujuan pendidikan nasional yang telah
dirumuskan. Dari pengembangan kurikulum harus berakar, namun
harus juga berpucuk menjulang tinggi, beranting, dan berdaun
rindang. Berakar berarti tetap berpegang kepada falsafah bangsa dan
menjulang berarti mengikuti perubahan dan perkembangan zaman.
Komentar
Posting Komentar