Karakteristik Peserta Didik
Magang 1
31 Mei 2021
Laporan bacaan
Karakteristik Peserta Didik
Penulis:
Dr. Jamisten Situmorang, M.Pd.
Dra. Ida Rosmawati, M.Pd.
Penalaah:
Sukarna, S.Pd, S.ST, M.Si.
Joko Soebagyo, S.Pd, M.Pd.
Assalamualaikum wr.wb
Perkenalkan
Nama : ketrin Putri Utami
Nim : 11901136
Kls : PAI 4/i
dari jurusan pendidikan agama Islam angkatan 2019.
yang terhormat
kepada Ibu Farninda Aditya,M.pd.
selaku dosen pengampuh mata kuliah magang 1 dan teman-teman seperjuangan ku.
disini saya telah membaca dengan tema manajemen sekolah.
Apa yang saya baca dan saya pahimi akan saya jelaskan dibawah ini
Selamat membaca
1.Perkembangan Karakteristik Peserta Didik
Peserta Didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya, peserta didik
mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya. Perubahan tersebut ada yang
diarahkan ke dalam diri sendiri, ada juga berupa penyesuaian diri terhadap
lingkungan.Perkembangan peserta didik merupakan bagian dari pengkajian atau
penerapan psikologi perkembangan dalam bidang pendidikan. Pada bagian ini akan
diuraikan aspek-aspek perkembangan peserta didik sebagai individu yang berada
pada tahap usia sekolah menengah. Peserta didik pada usia sekolah menengah,
sebagai individu yang sedang tumbuh dan berkembang, memerlukan pendidikan,
bimbingan dan pengarahan yang tepat untuk mencapai tingkat perkembangan yang
optimal sesuai dengan bakat dan minatnya.
a.Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek fisik
Tugas perkembangan adalah berbagai ciri perkembangan yang diharapkan timbul
dan dimiliki setiap individu pada setiap masa dalam periode perkembangannya.
Tugas perkembangan difokuskan pada upaya peningkatan sikap dan perilaku peserta
didik serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku sesuai
fasenya.Peserta didik yang berada pada usia remaja, di mana ditandai dengan adanya
pertumbuhan fisik hormonal yang memunculkan rasa ketertarikan pada lawan jenis.
Ada perubahan-perubahan yang bersifat universal pada masa remaja, yaitu
meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan
psikis, perubahan tubuh, perubahan minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok
sosial tertentu untuk dimainkannya yang kemudian menimbulkan masalah,
berubahnya minat, perilaku, dan nilai-nilai, bersikap mendua (ambivalen) terhadap
perubahan.Perubahan-perubahan tersebut akhirnya berdampak pada
perkembangan fisik, kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Pada usia remaja terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Tidak hanya pada
anggota tubuh tertentu tetapi juga proporsi tubuh yang semakin besar. Pada
perkembangan seksualitas remaja ditandai dua ciri yaitu seks primer dan seks
sekunder.Pada peserta didik laki-laki ditandai dengan semakin besarnya ukuran
testis, pembuluh mani dan kelenjar prostat semakin besar sehingga organ seks
semakin matang. Pada siswi tumbuhnya rahim, vagina, dan ovarium yang semakin
matang, hormon-hormon yang diperlukan dalam prooses kehamilan dan menstruasi
semakin banyak.Pada peserta didik laki-laki ditandai dengan tumbuhnya kumis, bulu
di sekitar kemaluan dan ketiak serta perubahan suara, semakin besarnya jakun. Pada
peserta didik perempuan ditandai dengan tumbuhnya rambut pubik atau bulu di
sekitar kemaluan dan ketiak, bertambah besarnya buah dada, bertambah besarnya
pinggul.
Kemampuan psikomotorik berkaitan dengan keterampilan motorik yang
berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi
antara syaraf dan otak. Untuk jenjang pendidikan SMK, mata pelajaran yang banyak
berhubungan denganranah psikomotor adalah pendidikan jasmani, olahraga dan
kesehatan, seni budaya, fisika, kimia, biologi, dan keterampilan. Dengan kata lain,
kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotoradalah praktik
di aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu
juga ada ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila dibandingkan
dengan ranah psikomotor. Perkembangan psikomotorik yang dilalui oleh peserta
didik SMK memiliki kekhususan yang antara lain ditandai dengan perubahanperubahan ukuran tubuh, ciri kelamin yang primer dan sekunder. Perubahanperubahan tersebut dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu percepatan
pertumbuhan dan proses kematangan seksual yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Perubahan-perubahan fisik tersebut merupakan gejala umum dalam pertumbuhan
peserta didik. Perubahan-perubahan fisik tersebut bukan hanya berhubungan
dengan bertambahnya ukuran tubuh dan berubahnya proporsi tubuh, akan tetapi
juga meliputi ciri-ciri yang terdapat pada kelamin primer dan sekunder. Peubahan-
perubahan yang dialami peserta didik mempengaruhi perkembangan tingkah laku
yang ditampakkan pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri,
isolasi diri dan pergaulan, perilaku emosional, imitasi berlebihan, dan lain-lain.
masa remaja merupakan salah satu diantara dua masa rentangan kehidupan individu,
dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. masa pertama yang terjadi pada
fase pranatal dan bayi. bagian-bagian tubuh tertentu pada tahun-tahun permulaan
kehidupan secara proporsional terlalu kecil, namun pada masa remaja
proporsionalnya menjadi terlalu besar, karena terlebih dahulu mengalami
kematangan daripada bagian-bagian yang lain. pada masa remaja akhir, proporsi
tubuh individu mencapai proporsi tubuh orang dewasa dalam semua bagiannya.
dalam perkembangan seksualitas remaja ditandai dengan dua ciri yaitu ciri-ciri seks
primer dan ciri-ciri seks sekunder.
b.Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek intelektual
Kemampuan kognitif peserta didik terus berkembang selama masa pendidikan
bahkan setelah usia sekolah pun pengembangan kognitif masih memungkinkan
untuk dilanjutkan. Akan tetapi belum tentu semua perubahan kognitif mengarah
pada peningkatan kemampuan intelektual. Kadang-kadang ada kemampuan kognitif
yang mengalami kemerosotan seiring dengan pertambahan usia. Beberapa ahli
percaya, bahwa kemunduran keterampilan kognitif terjadi juga pada masa remaja
akhir.Kemunduran tersebut dapat dicegah atau ditingkatkan kembali melalui
serangkaian pelatihan.Perkembangan kognitif pada usia remaja sampai dengan masa
dewasa awal, dikemukakan oleh Schaie (1997). Sebagai contoh, pada masa dewasa
awal terdapat perubahan dari mencari pengetahuan menuju penerapan ilmu
pengetahuan. Menerapkan pengetahuan yang sudah diketahui, khususnya dalam hal
penentuan karier dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pernikahan dan hidup
berkeluarga.
Perkembangan kognitif menurut Piaget, dimana masa remaja sudah mencapai tahap
operasi formal (operasi = kegiatan-kegiatan mental tentang berbagai gagasan).
Berlainan dengan cara berpikir anak-anak yang tekanannya kepada kesadaran
sendiri disini dan sekarang, cara berpikir remaja berkaitan dengan dunia
kemungkinan. Remaja mampu menggunakan abstraksi dan mampu membedakan
yang nyata dan konkrit dengan yang abstrak dan mungkin.Kemampuan untuk
menguji hipotesis dan bernalar secara ilmiah. Remaja mampu memikirkan tentang
masa depan dengan membuat perencanaan dan mengeksplorasi berbagai.
c.Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek emosional
Masa remaja merupakan puncak perkembangan emosionalitas, yaitu perkembangan
emosi yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ seksual mempengaruhi
perkembangan emosi dan dorongan baru yang dialami sebelumnya seperti perasaan
cinta. Pada usia remaja awal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang
sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa, emosinya bersifat
negatif dan temperamental. Sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan
emosinya.
Mencapai kematangan emosional merupakan tugas perkembangan yang sangat sulit
bagi remaja. Proses pencapaian kematangan emosi dipengaruhi oleh kondisi sosioemosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman
sebaya.Pada masa ini, tingkat karakteristik emosional akan menjadi drastis tingkat
kecepatannya. Gejala-gejala emosional para remaja seperti perasaan sayang, marah,
takut, bangga dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu
dicermati dan dipahami dengan baik.
Pendidik perlu mengetahui setiap aspek yang berhubungan dengan perubahan pola
tingkah laku dalam perkembangan remaja, serta memahami aspek atau gejala
tersebut sehingga dapat melakukan komunikasi yang baik dengan remaja.
Perkembangan pada masa remaja merupakan suatu titik yang mengarah pada proses
dalam mencapai kedewasaan.
Perkembangan peserta didik usia remaja sebagai individu yang berada pada tahap
yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan individu. Ketidakjelasan ini
karena mereka berada pada periode transisi, yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang dewasa. Pada masa tersebut mereka melalui masa yang disebut masa
remaja atau pubertas. Umumnya remaja sudah tidak mau dikatakan sebagai anak anak tetapi tidak mau disebut sebagai orang dewasa, mereka secara riil belum siap
menyandang predikat sebagai orang dewasa.
d.Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek moral
Perkembangan moral remajasesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang
mulai mencapai tahapan berpikir operasional formal, kemampuan berpikir abstrak,
memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotesis. Pemikiran remaja tidak lagi
hanya terikat pada waktu, tempat, dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang
menjadi dasar hidup mereka (Gunarsa,1988).
Perkembangan pemikiran moral remaja dicirikan dengan tumbuhnya kesadaran akan
kewajiban mempertahankan kekuasaan dan pranata yang ada karena dianggap
sebagai suatu yang bernilai, walau belum mampu mempertanggung jawabkan secara
pribadi (Monks, 1988). Perkembangan moral remaja yang demikian, menurut
Kohlberg sudah mencapai tahap konvensional. Pada akhir masa remaja seseorang
akan memasuki tahap perkembangan pemikiran moral yang disebut tahap
pascakonvensional, di mana orisinilitas pemikiran moral remaja sudahsemakin
jelas.Pemikiran moral remaja berkembang sebagai pendirian pribadi yang tidak
tergantung lagi pada pendapat atau pranata yang bersifat konvensional.
Melalui pengalaman atau interaksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya atau
orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja semakin matang dibandingkan
dengan pada usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau
konsep-konsep moralitas seperti kejujuran, keadilan, kesopanan, dan
kedisiplinan.Pada masa ini muncul dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan
yang dapat dinilai baik oleh orang lain. Remaja berperilaku bukan hanya untuk
memenuhi kepuasan fisiknya, tetapi juga psikologisnya (rasa puas dengan adanya
penerimaan dan penilaian positif dari orang lain tentang perbuatannya).
Keragaman tingkat moral remaja disebabkan oleh faktor penentunya yang beragam
juga. Salah satu faktor penentu atau yang mempengaruhi perkembangan moral
remaja itu adalah orangtua.1)terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat
moral remaja dengan tingkat moral orangtua.Ibu-ibu dari anak remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam
tahapan nalar moralnya daripada ibu-ibu yang anaknya nakal, dan remaja yang tidak
nakal mempunyai skor lebih tinggi dalam kemampuan nalar moralnya daripada
remaja yang nakal (Hudgins & Prentice, 1973) dan 3) terdapat dua faktor yang dapat
meningkatkan perkembangan moral anak atau remaja , yaitu :a) orangtua yang
mendorong anak untuk berdiskusi secara demokratik dan terbuka mengenai
berbagai isu, dan orangtua yang menerapkan disiplin terhadap anak dengan teknik
berpikir induktif (Parikh, 1980).
Para remaja sering bersikap kritis, menentang nilai-nilai dan dasar hidup orang tua
dan orang dewasa lainnya. Akan tetapi mereka tetap menginginkan suatu sistem nilai
yang akan menjadi pegangan dan petunjuk bagi perilaku mereka. Bagi anak remaja,
moral merupakan suatu kebutuhan untuk menumbuhkan identitas dirinya menuju
kepribadian yang matang dan menghindarkan diri dari konflik yang sering terjadi.
Nilai agama juga perlu mendapat perhatian, karena agama juga mengajarkan tingkah
laku yang baik dan buruk.
Apa yang terjadi didalam diri pribadi seseorang hanya dapat diketahui dengan cara
mempelajari gejala dan tingkah laku seseorang tersebut atau membandingkannya
dengan gejala serta tingkah laku orang lain. Tidak semua individu mencapai tingkat
perkembangan moral seperti yang diharapkan. Adapun upaya-upaya yang dapat
dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral, dan sikap remaja antara lain, melalui
komunikasi dan menciptakan lingkungan yang serasi. Usaha pengembangan tingkah
laku nilai hidup hendaknya tidak hanya mengutamakan pendekatan-pendekatan
intelektual semata, tetapi juga harus mengutamakan adanya lingkungan yang
kondusif di mana faktor-faktor lingkungan merupakan penjelmaan nyata dari nilainilai hidup tersebut.
e. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek spritual
Kata spiritual berasal dari bahasa Inggris yaitu ‘spirituality’ yang kata dasarnya
‘spirit’ yang berarti ruh, jiwa, semangat. Kata ‘spirit’ berasal dari bahasa latin ‘spiritus’
yang berarti luas atau dalam, keteguhan hati atau keyakinan, energy atau semangat.
Kata sifat ‘spiritual’ berasal dari bahasa latin ‘spiritualis’. Hubungan antara spiritual
dan religius. Spiritualitas adalah kesadaran tentang diri dan individu, asal, tujuan, dan
nasib, sedangkan religius merupakan serangkaian produk perilaku tertentu yang
dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan.
~ Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan spiritual agama:
1) Pembawaan. Yaitu karakteristik dari orang itu sendiri, dasar pemikiran dari
individu berdasarkan kepercayaan dan budaya yang dimilikinya.
2) Lingkungan keluarga. Keluarga sangat menentukan perkembangan spiritual
anak karena orang tualah yang berperan sebagai pendidik atau keyakinan yang
mendasari anak.
3) Lingkungan sekolah. Pendidikan keagamaan yang diterapkan di sekolah dapat
mempengaruhi perkembangan spiritual anak, karena dengan adanya
pendidikan agama anak akan mulai berpikir secara logika dan menentukan apa
yang baik dan tidak bagi dirinya dan kelak akan menjadi karakter anak tersebut.
4) Lingkungan masyarakat. Keberadaan yang ada di budaya masyarakat akan
mempengaruhi perkembangan anak. Apakah perkembangannya menuju arah
yang baik (positif dan yang negatif) itu semua tergantung pada bagaimana cara
anak berinteraksi dengan masyarakat.
~ Beberapa Karakteristik tersebut antara lain:
- Kecenderungan sikap bimbang, antara keinginan menyendiri dengan keinginan
bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan
bimbingan dan bantuan dari orangtua.
- Senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika atau norma dengan
kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa.
- Mulai mempertanyakan secara tidak yakin akan keberadaan dan sifat
kemurahan dan keadilan Tuhan.
- Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Memiliki sikap dan perilaku beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha
Esa.
f.Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek sosial-budaya
Peserta didik kemungkinan berasal dari beragam budaya, etnis dan ras karena itu
dapat terjadiproses akulturasi. Untuk menangani peserta didik yang beragam
tersebut guru perlu memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan beragam
kebutuhan peserta didik, latar belakang rasial atau etnik dan memastikan kurikulum
adil dan relevan secara kultural. Guru harus peka terhadap perbedaan budaya yang
dapat mempengaruhi suasana pembelajaran dikelas.Beberapa karakteristik peserta
didik yang perlu diidentifikasi berkaitan dengan kelas sosial, antara lain pekerjaan,
penghasilan, kekuasaan politis, dan lain-lain. Beberapa contoh efek dari perbedaan
kelas sosial yaitu, pengelompokan berdasarkan kelas sosial, ini cenderung akan
mempengaruhi psikis peserta didik yang kelas sosialnya rendah sehingga dapat
terjadi perbedaan prestasi antara kelas sosial tinggi dengan kelas sosial rendah.
Pada masa remaja berkembang ”social cognition”, yaitu kemampuan untuk
memahami orang lain. Remaja memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik
menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai,maupun perasaannya.Pada masa ini juga
berkembang sikap ”conformity”, yaitu kecenderungan untuk menyerah atau megikuti
opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman
sebaya).Apabila kelompok teman sebaya yang diikuti menampilkan sikap dan
perilaku yang secara moral dan agama dapat dipertanggungjawabkan maka
kemungkinan besar remaja tersebut akan menampilkan pribadinya yang baik.
Sebaliknya, apabila kelompoknya itu menampilkan sikap dan perilaku yang
melecehkan nilai-nilai moral maka sangat dimungkinkan remaja akan melakukan
perilaku seperti kelompok tersebut.Pada usia anak remaja terjadi perkembangan
sosial yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Anak usia remaja memahami
orang lain sebagai individu yang unik baik menyangkut sifat pribadi, minat, nilai-nilai
maupun perasaannya. Pemahaman ini mendorong mereka untuk menjalin hubungan
sosial yang lebih akrab dengan orang lain (terutama teman sebaya), baik melalui
jalinan persahabatan maupun percintaan.
Dalam hubungan persahabatan anak usia remaja memilih teman yang memiliki
kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut minat
(interest), sikap, nilai, ataupun kepribadian. Pada masa ini juga berkembang sikap
conformity yaitu kecenderungan untuk mengikuti opini, kebiasaan, dan keinginan
orang lain (teman sebaya). Perkembangan sikap ini dapat memberikan dampak
positif dan negatif bagi dirinya.Anak usia remaja mencapai perkembangan sosial yang
matang, dalam arti memiliki penyesuaiaan sosial yang tepat. Penyesuaiaan sosial
yang tepat ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mereaksi secara tepat
terhadap realitas sosial, situasi, dan relasi.
Karakteristik penyesuaian anak usia remaja di lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat lingkungan keluarga meliputi:
1) menjalin hubungan yang baik dengan anggota keluarga,
2) menerima otoritas orang tua,
3) menerima tanggung jawab dan batasan-batasaan keluarga dan
4) berusaha untuk membantu keluarga sebagai individu ataupun kelompok
dalam mencapai tujuan.
Penyesuaian karakteristik di lingkungan sekolah meliputi;
1) berpartisipasi dalam kegiatan sekolah,
2) menjalin persahabatan dengan teman-teman di sekolah,
3) bersikap hormat terhadap guru, pemimpin sekolah, dan staf lainnya dan
4) membantu sekolah dalam merealisasikan tujuan-tujuannya.
Di lingkungan masyarakat; a) mengakui dan respek terhadap hak-hak orang lain, b)
memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain, c) bersikap simpati terhadap
kesejahteraan orang lain dan d) bersikap respek terhadap nilai-nilai, hukum, tradisi,
dan kebijakan-kebijakan masyarakat.
Bagi perkembangan anak didik keragaman budaya sangat besar pengaruhnya bagi
mental dan moral mereka. Ini terbukti dengan sikap dan prilaku anak didik selalu
dipengaruhi oleh budaya-budaya yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Pada
masa-masa perkembangan, seorang anak didik sangat mudah dipengaruhi oleh
budaya-budaya yang berkembangan di masyarakat, baik budaya yang membawa ke arah prilaku yang positif maupun budaya yang akan membawa ke arah perilaku yang
negatif.
Melalui pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya
atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang jika
dibandingkan dengan usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai
moral atau konsep-konsep moralitas, seperti kejujuran, keadilan, kesopanan dan
kedisiplinan.Menurut Adam dan Guallatta terdapat berbagai hasil penelitian yang
menunjukkan bahwa orang tua mempengaruhi moral remaja, yaitu:
1) terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat moral remaja dengan
tingkat moral orang tua,
2) Ibu-ibu dari remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam
tahapan nalar moralnya dari pada ibu-ibu yang anaknya nakal, dan remaja
yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam kemampuan nalar
moralnya daripada remaja yang nakal dan
3) Terdapat dua faktor yang dapat meningkatkan perkembangan moral anak
atau remaja yaitu (a) orang tua yang mendorong anak untuk diskusi secara
demokratisdan terbuka mengenai berbagai isu dan (b) orang tua yang
menerapkan disiplin terhadap anak dengan teknik berpikir induktif.
2. Menganalisis karakteristik peserta didik untuk mengoptimalkan prestasi
belajar
Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam menganalisis karakteristik peserta
didik dalam rangka mengoptimalkan prestasi belajar, antara lain:
a. Kepribadian merupakan sistem yang dinamis dari sifat-sifat, sikap dan kebiasaan
yang menghasilkan tingkat konsistensi respons individu yang beragam. Sifatsifat kepribadian mencerminkan perkembangan fisik, seksual, emosional, sosial,
kognitif dan nilai-nilai. Masa remaja merupakan saat berkembangnya jati diri.
Perkembangan jati diri merupakan isu sentral pada masa remaja yang
memberikan dasar bagi masa dewasa. Apabila remaja gagal mengintegrasikan
aspek-aspek dan pilihan atau merasa tidak mampu untuk memilih, maka dia akan
mengalami kebingungan. Ada tuga-tugas perkembangan yang berasal dari
kematangan kepribadian. Ini berkaitan dengan pertumbuhan sistem nilai daspirasi. Misalnya, anak usia sekolah dasar mulai muncul kesadaran akan
perbedaan kelompok sosial dan ras, maka di usia ini ada tugas perkembangan
untuk bisa menyikapi dengan tepat perbedaan tersebut. Ketika beranjak remaja
muncul harapan tentang karier, sehingga muncul tugas perkembangan untuk
memulai mempelajari pengetahuan dan keterampilan sebagai persiapan kerja.
b. Peserta didik sebagai individu setelah dewasa dituntut tanggung jawab sebagai
warga sipil seperti membayar pajak dan memiliki pekerjaan.Pada usia sekolah
dasar, seorang guru dituntut untuk memberikan bantuan dalam upaya mencapai
setiap tugas tersebut. Bantuan itu berupa: 1) Penciptaan lingkungan teman
sebaya yang mengajarkan keterampilan fisik. Contohnya, senam pagi, peserta
didik dibagi ke beberapa kelompok, lalu mereka senam bersama-sama. Atau
mereka dapat dibuat kelompok belajar, dengan membuat sebuah prakarya, 2)
Pemberian pengalaman yang nyata dalam membangun konsep. Misalnya,
seorang guru dapat menceritakan dogeng yang mengandung nilai-nilai
kehidupan, sehingga peserta didik dapat mengambil nilai positif yang
terkandung dalam isi cerita tersebut. Dengan begitu memudahkan peserta didik
membangun konsepnya masing-masing.
c. Guru diharapkan dapat membantu peserta didik di usia remaja dalam
menjalankan tugas perkembangannya. Usaha itu dapat berupa: 1) Pada saat
membahas topik-topik yang berkaitan dengan anatomi dan fisisologi, peserta
didik wanita dan pria dipisahkan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi
kesalahpahaman, dan rasa penasaran yang berlebihan dari masing-masing
peserta didik baik itu dari peserta didik wanita maupun pria, 2) Mengadakan
kegiatan-kegiatan yang positif untuk menyalurkan hobi dan minat mereka.
Pastikan kegiatan itu mempunyai tujuan dan menarik minat semua peserta didik
untuk mengikutinya dan 3) Guru dapat menjadi contoh teladan yang baik peserta
didik. Karena pada masa ini, peserta didik perlu model untuk dicontoh dalam
perilakunya. Karena pada tugas perkembangannya, peserta didik SMP masih
suka bersikap bimbang dan sering membandingkan. Ditakutkan jika seorang
guru tidak dapat memberi contoh teladan yang baik, peserta didik tidak akan lagi
percaya dengan nasihat yang diberikan. Mereka akan menganggap guru itu
hanya omong kosong, tanpa ada bukti yang jelas.
d. Guru dituntut untuk memberikan pelayanan yang mampu memenuhi
kebutuhannya. Yang dapat dilakukannya, antara lain: 1) Memberikan
pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, bahaya
penyimpangan seksual, dan penyalahgunaan narkotika, 2) Membantu peserta didik mengembangkan sikap apresiatif terhadap kondisi dirinya dan 3)Melatih
peserta didik mengembangkan kemampuan bertahan dalam kondisi sulit dan
penuh godaan.
e. Implikasi pendidikan atau bimbingan dari periode berpikir operasi formal perlu
disiapkan program pendidikan atau bimbingan untuk memfasilitasi
perkembangan kemampuan berpikir remaja. Upaya yang dapat dilakukan
seperti: Penggunaan metode mengajar yang mendorong anak untuk aktif
bertanya, mengemukakan gagasan atau mengujicobakan suatu materi.
Melakukan dialog, diskusi dengan peserta didik tentang masalah-masalah sosial
atau berbagai aspek kehidupan seperti agama, etika pergaulan dan pacaran,
politik, lingkungan hidup, bahayanya minuman keras dan obat-obatan terlarang.
f. Guru perlu memahami perkembangan peserta didik meliputi: perkembangan
fisik, perkembangan sosio-emosional, dan bermuara pada perkembangan
intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan sosial mempunyai
kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan
mental atau perkembangan kognitif peserta didik.Pemahaman guru terhadap
perkembangan peserta didik sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran
yang kondusif yang akan dilaksanakan. Rancangan pembelajaran yang kondusif
akan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik sehingga mampu
meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan.
g. Perkembangan fisik selama remaja dimulai dari masa pubertas. Pada masa ini
terjadi perubahan fisiologis yang mengubah manusia yang belum mampu
bereproduksi menjadi mampu bereproduksi. Hampir setiap organ atau sistem
tubuh dipengaruhi oleh perubahan perubahan ini. Anak pubertas awal
(prepubertal) dan remaja pubertas akhir (postpubertal) berbeda dalam
tampakan luar karena perubahan perubahan dalam tinggi proporsi badan serta
perkembangan ciri-ciri seks primer dan sekunder.
h. Meskipun urutan kejadian pubertas itu umumnya sama untuk tiap orang, waktu
terjadinya dan kecepatan berlangsungnya kejadian itu bervariasi. Rata-rata anak
perempuan memulai perubahan pubertas 1,5 hingga 2 tahun lebih cepat dari
anak laki laki. Kecepatan perubahan itu juga bervariasi, ada yang perlu waktu 1,5
hingga 2 tahun untuk mencapai kematangan reproduksi, tetapi ada yang
memerlukan waktu 6 tahun. Dengan adanya perbedaan perbedaan ini ada anak
yang telah matang sebelum anak matang yang sama usianya mulai mengalami
pubertas.
3.Implikasi Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Dalam penyelenggaraan pendidikan, perlu diperhatikan sarana dan prasarana yang
dapat menimbulkan gangguan pada peserta didik. Misalnya: tempat duduk yang
kurang nyaman, ruangan yang gelap dan terlalu sempit yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan. Disamping itu perlu diperhatikan waktu istirahat yang cukup.
Penting menjaga supaya fisik tetap sehat adanya jam-jam olah raga bagi peserta didik
di luar jam pelajaran. Misalnya: melalui kegiatan ekstra kurikuler kelompok olah raga,
bela diri, dan sejenisnya.
Perkembangan emosi peserta didik sengat erat kaitannya dengan faktor-faktor:
perubahan jasmani, perubahan dalam hubungannya dengan orang tua, perubahan
dalam hubungannya dalam teman-teman, perubahan pandangan luar (dunia luar)
dan perubahan dalam hubungannya dengan sekolah. Oleh karena itu perbedaan
individual dalam perkembangan emosi sangat dimungkinkan terjadi, bahkan
diramalkan pasti terjadi. Dalam rangka menghadapi luapan emosi remaja, sebaiknya
ditangani dengan sikap yang tenang dan santai. Orang tua dan pendidik harus
bersikap tenang, bersuasana hati baik dan penuh pengertian. Orang tua dan pendidik
sedapat mungkin tidak memperlihatkan kegelisahannya maupun ikut terbawa
emosinya dalam menghadapi emosi remaja. Untuk mengurangi luapan emosi peserta
didik perlu dihindari larangan yang tidak terlalu penting. Mengurangi pembatasan
dan tututan terhadap remaja harus disesuaikan dengan kemampuan mereka.
Sebaiknya memberi tugas yang dapat diselesaikan dan jangan memberi tugas dan
peraturan yang tidak mungkin dilakukan.
Usia remaja adalah usia yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara kuantitatif
maupun secara kualitatif, baik fisik maupun psikisnya. Menganggap dirinya bukan
anak-anak lagi, tetapi sekelilingnya menganggap mereka belum dewasa. Dengan
beberapa problem yang dialaminya pada masa ini, akibatnya mereka melepaskandiri
dari orang tau dan mengarahkan perhatiannya pada lingkuan di luar keluarganya
untuk bergabung dengan teman sekebudayaannya, guru dan sebagainya. Lingkungan
teman memegang peranan dalam kehidupan remaja. Selanjutnya sekolah sebagai
lembaga pendidikan formal yang diserahi tugas untuk mendidik, tidak kecil
peranannya dalam rangka mengembangkan hubungan sosial peserta didik. Jika
dalam hal ini guru tetap berpegang sebagai tokoh intelektual dan tokoh otoritas yang
memegang kekuasaan penuh sepeerti ketika anak-anak belum menginjak remaja,
maka sikap sosial atau hubungan sosial anak akan sulit untuk dikembangkan.
•Belajar dengan coba-coba
•Belajar dengan cara meniru
•Belajar dengan cara mempersamakan diri
•Belajar melalui pengondisian
•Belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
4.Hubungan Karakteristik Peserta didik dengan Proses Pembelajaran
Karakteristik peserta didik sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran.
Peserta didik yang mempunyai kesiapan secara fisiologis dan psikologis akan mampu
mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebaliknya, yang kurang siap
kemungkinan akan mengalami kesulitan. Guru dapat memanfaatkan perbedaan
karakteristik peserta didik dalam mengelola kelas, terutama dalam penempatan dan
pengelompokkan (Khodijah 2011:184). Melaksanakan pembelajaran yang bermutu
merupakan salah satu kewajiban guru. Proses pembelajaran dapat dilakukan di
dalam kelas dan di luar kelas. Umumnya, proses pembelajaran di sekolah sebagai
lembaga pendidikan formal dilaksanakan di dalam kelas. Pembelajaran di kelas
memerlukan kemampuan guru dalam mengelola dengan sebaik-baiknya agar tujuan
yang telah ditetapkan dapat tercapai. Salah satu pengelolaan yang dapat dilakukan
adalah dengan mengatur tempat duduk dan mengelompokkan peserta didik sesuai
dengan karakteristik psikologisnya. Misalnya, emosi mempunyai pengaruh terhadap
proses belajar seseorang. Emosi positif akan mempercepat proses belajar dan
mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi negatif dapat memperlambat
belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Karena itu, proses pembelajaran
yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif pada diri peserta
didik. Usaha menciptakan emosi positif pada diri peserta didik dapat dilakukan
dengan cara antara lain dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi perbedaan karakteristik
peserta didik adalah dengan menerapkan mastery learning (pembelajaran tuntas).
5.Hubungan Karakteristik Peserta didik dengan Hasil Belajar
Menurut Purwanto (1995:107) bahwa karakteristik yang dimiliki peserta didik baik
fisiologis maupun psikologis mempengaruhi proses dan hasil belajarnya. Kondisi
fisiologis peserta didik mempengaruhi hasil pembelajaran. Peserta didik yang belajar
dengan kondisi fisiologis baik lebih mungkin untuk memperoleh hasil yang maksimal
bila dibandingkan dengan peserta didik yang belajar dengan kondisi fisiologis tidak
baik. Peserta didik yang sedang sakit tidak akan mampu mengikuti kegiatan belajar
dengan baik sehingga hasil yang diperolehnya juga tidak akan maksimal.
Komentar
Posting Komentar